Skip to content

Ketika Syi `ah Membantah Syi `ah : Syi `ah dan Ibadah di Kuburan

2012/04/04

Telah lazim kita ketahui bersama betapa eratnya ritual kaum Syi’ah dan kuburan para Imam dan tokoh-tokoh mereka. Praktek ini dapat dengan mudah ditemukan pada kubur Imam Husein dan para ulama mereka lainnya, bahkan di makam Abu Lu’lu pun, berpesta pora merayakan pembunuhan Abu Lu’lu atas Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu merupakan suatau ibadah bagi mereka. Kini kami akan mengetengahkan beberapa kontradiksi yang terdapat dalam referensi-referensi kaum Syi’ah itu sendiri. Semoga Allah memberi taufiq dari pemahaman Syi’ah dan kesesatan mereka dalam ibadah.

 عن أبي عبد الله عليه السلام قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  ” إن على كل حقٍ حقيقة وعلى كل صوابٍ نوراً  فما وافق كتاب الله فخذوه وما خالف كتاب الله فدعوه ” الكافي 1/69

Dari Abu Abdillah ‘alaihissalam ia berkata, berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya bagi setiap kebenaran ada hakikat, dan bagi setiap kebenaran ada cahaya. Maka apa yang sesuai dengan Kitabullah, ambillah, dan apa yang menyelisihi Kitabullah, tinggalkanlah” (Al Kafi, 1/69)

 عن أبي عبد الله عليه السلام قال قال أمير المؤمنين عليه السلام:  ”بعثني رسول الله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم في هدم القبور وكسر الصور”  وسائل الشيعة 2/870

Dari Abu Abdillah ‘alaihissalam ia berkata, berkata Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) ‘alaihissalam, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam mengutusku untuk membongkar kubur dan menghancurkan lukisan-lukisan” (Wasail Asy Sy’iah 2/870)

 عن أمير المؤمنين عليه السلام قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ” لا تتخذوا قبوركم مساجد ولابيوتكم قبوراً”  مستدرك الوسائل 2/379

Dari Amirul Mukminin ‘alaihissalam, ia berkata “Aku Mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jangan jadikan kuburan-kuburan kalian sebagai masjid, sedangkan rumah-rumah kalian sebagai kuburan” (Mustadrak Al Wasa’il 2/379)

عن أبي عبد الله عليه السلام قال قال أمير المؤمنين عليه السلام: بعثني رسول الله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم إلى المدينة فقال: ” لاتدع صورة إلا محوتها ولا قبراً إلا سوّيته ولاكلباً إلا قتلته” وسائل الشيعة 2/869 و3/62

Dari Abu Abdillah ‘alaihissalam ia berkata, berkata Amirul Mukminin ‘alaihissalam, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam diutus ke Madinah dan beliau berkata, ‘Jangan biarkan gambar-gambar kecuali kalian hancurkan, dan jangan biarkan kuburan kecuali kalian ratakan, dan anjing kecuali kalian bunuh ia’” (Wasail Asy Syi’ah 2/869 dan 3/62)

عن أبي عبد الله عليه السلام : ” لاتتخذوا قبري قبلة ولامسجداً فإن الله لعن اليهود حيث اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد” من لايحضره الفقيه 1/128 وسائل الشيعة 2/887

Dari Abu Abdillah ‘alaihissalam, “Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai kiblat dan masjid, karena sesungguhnya Allah melaknat Yahudi yang mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid” (Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih 1/128 dan Wasa’il Asy Syi’ah 2/887)

قال الصادق عليه السلام: ” كل ماجُعل على القبر من غير تراب القبر فهو ثُقل على الميّت ” من لايحضره الفقيه 1/135 وسائل الشيعة 2/864

Berkata Ash Shadiq (yaitu Ja’far Shadiq) ‘alaihissalam, “Setiap (bangunan) yang didirikan di atas kuburan selain tanah, akan memberatkan si mayit” (Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih 1/135 dan Wasa’il Asy Syi’ah 2/864)

Dan bahkan Al Ma’shum (menurut mereka, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib) mengkafirkan Syi’ah itu sendiri.

وقال أمير المؤمنين عليه السلام : ” من جدّد قبراً أو مثّل مثالاً فقد خرج من الإسلام”  من لايحضره الفقيه 1/135 وسائل الشيعة 2/868

Berkata Amirul Mu’minin ‘alaihissalam, “Barangsiapa yang merenovasi kubur atau membuat gambar di atasnya, maka ia telah keluar dari Islam” (Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih 1/135 dan Wasa’il Asy Syi’ah 2/868)

 وعن علي بن جعفر قال : سألت أبا الحسن موسى عليه السلام عن البناء على القبور والجلوس عليها هل يصلُح؟ قال: ” لايصلح البناء عليه ولا الجلوس ولا تجصيصه ولا تطيينه”

Ali bin Ja’far berkata, “Abul Hasan Musa ‘alaihissalam ditanya tentang membangun kubur dan duduk-duduk diatasnya, baikkah perbuatan tersebut?. Jawab beliau, ‘Tidaklah termasuk perbuatan baik membangun di atas kuburan, jangan duduk-duduk di atasnya, jangan menemboknya, jangan pula menyemennya”

Sumber : http://www.muslm.net/vb/showthread.php?t=255260

Marilah bersama-sama kita cocokkan apa yang tertulis dalam referensi kaum Syi’ah dengan praktek kaum Syi’ah di zaman ini :

Lukisan tokoh-tokoh Syi’ah yang diagungkan oleh mereka

Ayatollah Khamene’i Sholat di depan kubur Ayatollah Khomeini.

Kuburan Imam Khomeini yang diratapi oleh pengikut Syiah

Keterangan: * Anak Panah yang menunjuk ke kiri menunjuk ke arah mimbar dan arah kiblat. * Anak panah yang menunjuk ke kanan menunjuk ke arah kuburan. Kita lihat orang-orang yang kelihatan di dalam gambar menghadapkan wajahnya ke kuburan dan membelakangi kiblat, nampaknya menghadap Kuburan lebih baik untuk beribadah dibanding menghadap kiblat.

Maka cukuplah bantahan bagi kaum Syi’ah berasal dari referensi mereka sendiri. Wasailus Syi’ah merupakan salah satu kitab hadits rujukan Syi’ah yang ditulis oleh Muhammad bin Al Hasan Al ‘Amali, dan dipakai oleh mereka dalam menentukan hukum-hukum syariat. Sementara Man Laa Yahduruhu Al Faqih merupakan salah satu dari empat kitab induk kaum Syi’ah Itsna Asyariyah, ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad ibn ‘Ali ibn Babawaih al-Qummi, lebih dikenal sebagai Ibnu Babawaih atau Al-Shaykh al-Shaduq. Semoga Allah memberi taufiq dan penjagaan dari bahaya pemahaman kaum Syi’ah, khususnya di negeri kita.

Penulis: Yhouga Pratama
Artikel : Muslim.or.id

Wanita Dalam Pandangan Syi ‘ ah (bagian 2)

2012/03/26

Hubungan Badan Melalui Dubur (Analseks)

Orang yang fitrahnya masih suci akan merasa risih dengan hal ini. Orang yang jiwanya masih bersih akan merasa jijik dengan pendapat ini. Meskipun bisa jadi mereka belum mengenal dalilnya. Bagaimana jika mereka tahu dalilnya? Perasaan risih dan jijik itu akan semakin kuat.

Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, terkait ayat:

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّي شِئْتُمْ

Istri kalian adalah ladang kalian, karena itu datangi ladang kalian dengan cara yang kalian kehendaki.

Ketika turun ayat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabatnya:

أقبل وأدبر واتق الدبر والحيضة

Datangi dari depan atau dari belakang, tapi hindari dubur dan ketika keluar haid” [HR. Nasa’i dan Turmudzi. Ibnu Hajar mengatakan: Diriwayatkan Ahmad dan Turmudzi dengan jalur yang shahih (Fathul Bari, 8/191)]

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا ينظر الله إلى رجل أتى رجل أو امرأة في الدبر

“Allah tidak akan melihat seorang laki-laki yang melakukan hubungan dengan laki-laki lain atau dengan istrinya melalui dubur” [HR. Turmudzi 1165 dan dihasankan Al-Albani]

Demikian keterangan dari Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimana ulama syiah berbicara?

Pertama, Ayatolah Khumaini dalam kitab Tahrir al-Wasilah mengatakan

والأقوى والأظهر جواز وطئ الزوجة مع الدبر

“Pendapat yang paling kuat adalah bolehnya menyetubuhi istri di dubur” [Tahrir al-Wasilah, 2/241]

Kedua, Hojatolah As-Sistani mengatakan:

أما وطئها في الدبر ففيه إشكال وإن كان الأظهر جوازه مطلقا مع رضاها وأما مع عدمه فالأحوط تركه. الأحوط الأولى أن يكفر عن وطء زوجته حال الحيض مع علمه بذلك فهي على الاحوط لاعلى اللزوم.

Adapun menyetubuhi wanita di dubur, dalam hal ini ada perselisihan, meskipun yang kuat adalah boleh secara mutlak, dengan ridha sang wanita. Namun jika dia tidak ridha, yang lebih hati-hati adalah ditinggalkan. Yang lebih hati-hati, dan lebih utama, dilarang menyetubuhi istri ketika haid, jika dia mengetahui hal itu. Ketentutan ini hanya sebagai kehati-hatian, dan bukan wajib.

[As-Sistani, Al-Masail Al-Muntakhabah, 9:35 – 36 , Dar Al-Muarrikh Al-Arabi, 1416]

Ketiga, Riwayat dari Syaikhut Thaifah, Abu Ja’far At-Thusi, dan mungkin inilah sumbernya:

a. Dari Abu Ya’fur, dia mengatakan:

سألت أبا عبدالله (ع) عن الرجل يأتي المرأة في دبرها ؟

Aku bertanya kepada Abu Abdillah ‘alaihis salam tentang orang yang menyetubuhi wanita dari belakang.

Abu Abdillah menjawab:

لا بأس إذا رضيت

Tidak mengapa, jika si wanita ridha.

b. Dari Abu Ya’fur, dia mengatakan:

سألت أبا الحسن الرضا (ع) عن إتيان الرجل المرأة من خلفها في دبرها ؟

Aku bertanya kepada Abul Hasan Ar-Ridha ‘alaihis salam tentang hukum seorang laki-laki yang menyetubuhi wanita dari belakang di duburnya? Abul Hasan mengatakan:

أحلتها آية من كتاب الله تعالى قول لوط (ع) (هؤلاء بناتي هن أطهر لكم)هود 78وقد علم أنهم لا يريدون إلا الدبر

Praktek ini dihalalkan oleh ayat Al-Quran, melalui perkataan Nabi Luth ‘alaihis salam:

[هؤلاء بناتي هن أطهر لكم ]

Ini putri-putriku, mereka lebih suci untuk kalian jadikan istri. (QS. Hud, 78), padahal Nabi Luth sudah tahu bahwa tidaklah kaumnya menginginkan kecuali bagian dubur.

Selanjutnya At-Thusi memberikan catatan untuk dua riwayat yang melarang bersetubuh melalui dubur. Salah satunya, riwayat dari Sadir, dia mengatakan

سمعت أبا عبدالله (ع) يقول : قال رسول الله (ص) (محاش النساء على أمتي حرام)

Saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) ‘alahis salam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Mahasyun Nisa’ (berhubungan melalui dubur) haram untuk umatku.

At-Thusi berkomentar:

Makna yang tepat untuk dua riwayat ini adalah menunjukkan makruh, karena yang paling utama adalah meninggalkan hal itu (anal seks), meskipun tidak terlarang. Yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh Ahmad bin Muhammad bin Isa dari Al-Barqi, dia marfu’kan dari Abu Ya’fur, Al-Barqi mengatakan: Saya bertanya kepadanya (Abu Ya’fur) tentang hukum menggauli wanita dari pantatnya (anal seks)? Dia menjawab:

ليس به بأس وما أحب أن تفعله

Tidak mengapa, dan saya ingin agar kamu tidak melakukannya.

At-Thusi melanjutkan: Bisa jadi dua riwayat di atas, disampaikan dalam konsteks taqiyah.

(Al-Istibshar, karya At-Thusi, 3/242. cet. Thahran, 1390)

***
artikel muslimah.or.id
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

 

 

Meneladani Bakti Ulama Kepada Orangtuanya

2012/03/22

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Wahai saudariku…yang semoga selalu dirahmati Allah, tahukah kalian bahwa perkara berbakti kepada kepada orangtua merupakan perkara yang mulia lagi agung. Dan sudah sepantasnya bagi saudariku yang senantiasa berpegang teguh dengan agama ini, untuk mengetahui serta memahami apa saja hak-hak orangtua yang seharusnya kita penuhi. Terlebih lagi jika kita telah mendapati kedua orangtua kita sudah dalam keadaan tua, tak punya daya dan tenaga sebagaimana ketika mereka masih muda.

Ketahuilah, Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk berbakti kepada orangtua serta tidak menyakiti perasaan mereka meski dengan ucapan, apalagi dengan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat-Nya,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Israa’: 23-24).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,
“… dalam ayat ini Allah menggandengkan antara ibadah kepada-Nya dengan perintah berbakti kepada kedua orangtua. Allah Ta’ala berfirman, “dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak..”, sebagaimana dalam ayat-Nya yang lain, “bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada keduaorangtuamu, dan kepada-Kulah kamu kembali. “(QS. Luqman: 14).

Dan Allah ta’ala berfirman, yang artinya:
”Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”,
Yaitu, janganlah engkau mengucapkan perkataan yang buruk kepada keduanya, dan ucapan “ah” itu adalah ucapan yang mendekati perkataan buruk.

“dan janganlah engkau membentak keduanya,”
Yaitu, jangan sampai muncul perbuatan buruk darimu yang ditujukan kepada keduanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Atha’ bin Abi Rabaah tentang ayat tersebut, yaitu “janganlah mengibaskan tanganmu kepada keduanya.”

Tatkala Allah melarang seorang anak untuk berucap buruk ataupun berperilaku buruk , maka Allah memerintahkan anak untuk berkata yang baik dan berbuat yang baik. Allah ta’ala berfirman, yang artinya
“dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”,
Yaitu, perkataan yang lembut, menyenangkan, bagus disertai dengan sopan santun, penghormatan dan pengagungan kepada keduanya.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang”
Yaitu, rendahkanlah dirimu di hadapan keduanya dengan perilakumu.

“dan ucapkanlah,’Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’”
Yaitu mendoakan mereka ketika mereka telah tua renta, dan ketika mereka telah meninggal.”

Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Berbakti Kepada Orangtua

Saudariku, mari kita perhatikan bagaimana seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bernama ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,
‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Aku bertanya,“Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?”
Rasulullah menjawab,”Sholat tepat pada waktunya.”
Aku bertanya, “Lalu apa lagi?”
Beliau menjawab,”Berbakti kepada orangtua.”
Kemudian aku bertanya lagi,”Lalu apa lagi?”
Beliau berkata,”Berjihad di jalan Allah.”’
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pernah pula shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, ‘Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah aku pergi berjihad?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya,”Apa engkau masih memiliki ibu bapak?”
Dia berkata,”Ya.”
Beliau berkata,”Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas, tahulah kita bahwa berbakti kepada orangtua merupakan amalan yang paling utama setelah sholat wajib yang dikerjakan tepat waktunya, serta merupakan amalan jihad yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Inilah Kisah Ulama’ serta Bakti Mereka kepada Orangtua

Wahai saudraiku, kini kan kuhadirkan untukmu nukilan kisah para ulama serta amalan bakti mereka kepada orangtuanya. Merekalah orang yang berilmu, lagi paling mengetahui hak-hak yang besar yang dimiliki orangtua atas diri-diri mereka. Betapa mereka sangat perhatian dengan hal ini, karena bakti mereka kepada orangtua adalah pembuka jalan menuju surga. Semoga nukilan kisah ini kan menjadi cerminan, bagaimana seharusnya kita memperlakukan orangtua, sebagaimana yang dilakukan para ulama.

1. Iyas bin Mu’awiyyah

Ketika ibu beliau meninggal, beliaupun menangis. Orang yang mengetahui hal itupun bertanya kepada beliau yang mungkin didorong rasa heran karena melihat seorang yang ‘alim di antara mereka tak mampu menahan airmatanya tatkala mendapati ibunya telah meninggal. “Mengapa Anda menangis?”. Maka Iyas bin Mu’awiyyah menjawab,”Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka untuk menuju surga, namun kini salah satunya telah terkunci.”

Wahai Saudariku, lihatlah betapa sedihnya salah seorang ulama kita ini ketika ibunya meninggal dunia. Lalu bagaimana kiranya dengan kita, adakah rasa sedih kehilangan pintu surga sebagaimana yang dirasakan Iyas bin Mu’awiyyah tatkala salah satu dari keduanya meninggal? Lalu tak lebih bersedihkah kita tatkala tak lagi mendapati dua pintu surga karena kedua orangtua kita telah tiada?

2. Abu Hanifah

Sesungguhnya ibu dari Abu Hanifah pernah bersumpah dengan satu sumpah, kemudian dia melanggarnya. Maka sang ibu pun meminta fatwa kepada anaknya, Abu Hanifah. Namun ternyata ibunya merasa tidak mantap dengan fatwa yang diberikan anaknya.
Ibunya berkata,”Aku tidak merasa ridha, kecuali dengan mendengar langsung fatwa dari Zur’ah Al-Qash!”
Maka Abu Hanifah pun mengantar ibunya untuk meminta fatwa kepada Zur’ah. Namun Zur’ah Al-Qash mengatakan,”Wahai Ibu, engkau meminta fatwa kepadaku, sementara di depanku ada seorang yang paling alim di kota Kuffah?!”
Abu Hanifah pun berkata dengan berbisik kepada Zur’ah, “Berilah fatwa kepadanya demikian dan demikian” (sebagaimana fatwa Abu Hanifah kepada ibunya), kemudian Zur’ahpun memberikan fatwa hingga ibu Abu Hanifah merasa ridha!

Wahai saudariku, inilah sikap bakti Abu Hanifah kepada ibunya. Rasa cinta dan baktinya kepada sang ibu tidaklah membuatnya merasa gengsi tatkala sang ibu menginginkan fatwa dari orang lain yang tingkatan ilmunya justru lebih rendah dari Abu Hanifah. Dan lihatlah, beliau sama sekali tak merasa sombong dan angkuh di hadapan ibunya meski orang lain telah mengakui kefaqihannya dalam memahami ilmu syar’i.

Dalam kisah yang lain, Abu Yusuf menyampaikan, “Aku menyaksikan Abu Hanifah rahimahullahu ta’ala menggendong ibunya naik ke atas keledai untuk menuju majelisnya ‘Umar bin Dzar, dikarenakan ia tak ingin menolak perintah ibunya.” Adapun yang dimaksud adalah Ibu Abu Hanifah menyuruh beliau untuk bertanya kepada ‘Umar bin Dzar tentang kepentingan ibunya.

3. Manshur bin Al-Mu’tamar

Muhammad bin Bisyr Al-Aslami berkata,”Tidaklah didapati orang yang paling berbakti kepada ibunya di kota Kuffah ini selain Manshur bin Al-Mu’tamar dan Abu Hanifah. Adapun Manshur sering mencari kutu di kepala ibunya, dan menjalin rambut ibunya.”

Wahai saudariku, perhatikanlah bakti Manshur kepada ibunya, yang menyempatkan dirinya untuk mencari kutu dan menjalin rambut sang ibu. Betapa amalan itu mungkin remeh di mata kita, namun begitu besar di mata Manshur. Bahkan perbuatannya tersebut tidaklah membuatnya merasa turun harga dirinya disebabkan beliau seorang laki-laki.

Lalu bagaimana denganmu wahai saudariku, yang tentu engkau lebih layak untuk mengerjakannya karena engkau adalah seorang wanita?
Tidakkah kau lihat rambut ibumu yang mulai kusut dan tak tertata karena tak mampu merawatnya, sementara engkau hanya diam terpaku membiarkannya begitu saja?

4. Haiwah bin Syarih

Suatu hari Haiwah bin Syarih –beliau salah seorang imam kaum muslimin- duduk dalam majelis beliau untuk mengajarkan ilmu kepada manusia. Lalu ibunya berteriak memanggil beliau, “Berdirilah wahai Haiwah, beri makan ayam-ayam itu!”
Lalu beliaupun berdiri dan meninggalkan majelisnya untuk memberi makan ayam.

Kembali kita bercermin kepada Haiwah bin Syarih, panggilan ibunya untuk memberi makan ayam tidaklah membuat beliau malu dan merasa turun derajatnya di hadapan murid-murid beliau. Justru saat itulah beliau memberikan keteladanan yang besar kepada murid-muridnya akan kewajiban berbakti kepada orangtua dan lebih mendahulukan orangtua dibandingkan dengan orang lain. Bagaimana seandainya hal itu terjadi pada dirimu wahai saudariku? Akankah engkau bergegas untuk menyambut perintah orangtuamu?

5. Muhammad bin Al-Munkadir

Muhammad bin Al-Munkadir pernah menceritakan, “’Umar (saudara beliau) menghabiskan malam dengan mengerjakan sholat malam, sedangkan aku menghabiskan malamku untuk memijat kaki ibuku. Dan aku tidaklah ingin malamku itu diganti dengan malamnya ‘Umar.”

Melalui nukilan ini, Muhammad bin Al-Munkadir telah memberikan petuah secara tak langsung kepada kita, bahwa bakti kepada orangtua itu lebih besar pahalanya dari pada mengerjakan amalan sunnah. Bahkan meskipun amalan sunnah itu adalah sholat malam yang dilakukan semalam suntuk yang engkau pasti tahu sholat malam merupakan sholat sunnah yang paling utama. Oleh karena itu, tatkala orangtuamu menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak melanggar aturan syariat, sementara engkau dalam keadaan melakukan amalan sunnah, maka segera sambut mereka, dan batalkan amalan sunnah tersebut untuk sementara.

6. Imam Ibnu ‘Asakir

Al-Imam Ibnu ‘Asakir pernah ditanya tentang sebab mengapa beliau terlambat dalam menuntut ilmu di Asbahan, maka beliau menjawab,”Ibuku tidak mengizinkanku.”

7. Imam Adz-Dzahabi

Beliau pernah mengisahkan bahwa beliau membaca Al-Qur’an kepada Syaikhnya yang bernama Syaikh al-Fadhili. Kemudian beliau berkata,”Ketika guru kami (Al-Fadhili) meninggal, sementara aku belum selesai membaca Al-Qur’an dengannya, akupun merasa sedih. Kemudian ada orang yang menyampaikan kepadaku bahwa Abu Muhammad Al-Makin Al-Asmar yang tinggal di Iskandariyah memiliki sanad yang lebih tinggi daripada Al-Fadhili.” Imam Adz-Dzahabi berkata,”Maka semakin bertambahlah kesedihanku karena ayahku tidak mengizinkanku melakukan safar ke kota Iskandariyah.

Adz-Dzahabi menyampaikan dalam biografi ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Latif Al-Baghdadi, “Aku merasa sedih ketika bepergian kepadanya, tidaklah aku menyeberangi jembatan, karena khawatir dengan ayahku. Sesungguhnya dia telah melarangku.”

Adz-Dzahabi pernah mengadakan perjalanan menuju salah seorang imam dan tinggal di tempat imam tersebut selama beberapa waktu, lalu beliau berkata,”Aku telah berjanji dan bersumpah kepada ayahku, bahwa aku tidak akan tinggal dalam perjalanan ini lebih dari 4 bulan, sehingga aku khawatir menjadi anak durhaka.”

Lihatlah bagaimana sikap Imam Ibnu ‘Asakir dan Adz-Dzahabi yang begitu perhatian dengan izin dari orangtuanya. Begitu beratnya mereka untuk pergi, bahkan untuk menuntut ilmu sekalipun, ketika orangtuanya tak memberikan izin kepada mereka. Betapa takutnya mereka menjadi anak durhaka, hanya karena melanggar sedikit dari janji yang sudah disepakati dengan orangtuanya.

Lalu, mari kita lihat keadaan di zaman ini. Betapa banyak kita dapati muslimah (kecuali mereka yang dirahmati Allah), pergi ke suatu tempat tanpa meminta izin dulu kepada orangtuanya. Berangkat tak pamit, pulang tak jelas jam berapa. Tidakkah mereka berpikir, betapa orangtuanya merasa gelisah kebingungan mencari anak gadisnya yang tak kunjung pulang?

Wahai saudariku, apa lagi yang engkau tunggu? Segeralah berbuat baik kepada kedua orangtuamu. Karena apabila engkau mengerahkan seluruh tenaga untuk berbakti kepada mereka, niscaya itu tidak akan mampu menyaingi kebaikan mereka ketika mendidik dan merawatmu saat masih kecil.

Bergegaslah untuk mengunjungi mereka andai engkau telah lama tak berjumpa. ..
Bergegaslah untuk menelepon mereka andai lama engkau tak mendengar kabarnya…
Mintalah mereka untuk menghabiskan masa tuanya bersamamu…
Rawatlah mereka dengan penuh ketulusan. Bersihkan kotoran yang melekat pada badan dan pakaian mereka dengan keikhlasan andai mereka telah renta…
Tatalah ruangan mereka, beri pencahayaan yang cukup, dan perhatikanlah kebersihan ruangannya.
Ciumlah kening mereka dengan penuh ketulusan dan harapkanlah pahala dari Allah atas segala baktimu. Perlakukan mereka sebagaimana hamba memuliakan raja dan ratu…
Janganlah sampai kau perlakukan mereka layaknya seorang pembantu yang bisa kau suruh untuk menbantu pekerjaan rumah tanggamu. Na’udzubillahi min dzalik.
Dakwahi dengan kelembutan serta akhlak yang baik andai mereka belum mendapatkan hidayah-Nya.
Segeralah meminta maaf andai engkau pernah mengucapkan kata-kata dan berlaku kasar yang membuat mereka tak ridha.
Saudariku, mungkin engkau tak akan lama lagi melihat wajah mereka.
Lihatlah kulit-kulit mereka yang mulai kisut…
Kening-kening mereka yang mulai mengerut…
Raga yang tak lagi kuat dan sebentar lagi kan menantang maut..
Adakah engkau telah membuat mereka bahagia?
Sudahkah engkau melukiskan tawa di bibir mereka?
Atau justru engkau telah membuat mereka menangis karena tingkahmu yang tak menyenangkan mereka??

Wahai saudariku, lekaslah redakan tangis mereka.
Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menasehatkan hal demikian kepada salah seorang yang datang kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda,”Kembalilah kepada kedua orangtuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis..” (HR. Imam Abu Dawud dan An-Nasa-i)

Ya Robbi, ampunilah dosaku dan ampunilah dosa kedua orangtuaku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.

Semoga kita dimudahkan untuk mempersembahkan bakti kepada kedua orangtua, sebagaimana bakti para ulama pada orangtuanya.. Aamiin..

Di Penghujung Rindu kepada Ayah dan Ibu,
Yogyakarta, 11 Dzulqo’idah 1432 H.

***
Penulis: Nunung Wulandari
Muroja’ah: Ust. Ammi Baits
Artikel Muslimah.or.id

Maraji’:
Ma’allim Fith-Thariiq Thalabil ‘Ilm bab Thalibul ‘Ilm wa Birrul Walidain, ‘Abdul ‘Aziz Muhammad bin ‘Abdillah As-Sadhan, Darul ‘Ashimah.
Birrul Walidain Berbakti kepada Kedua Orang Tua, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At-Taqwa.

Mencari Jodoh di Dunia Maya ?

2012/03/21

Sebelumnya kami hanya membaca nasihat seperti ini di dunia maya. Akan tetapi setelah mendengar dan melihat langsung, dan kasusnya tidak hanya satu. kami melihat bukti langsung bagaimana seorang laki-laki dan wanita, yang sudah mengenal agama dengan manhaj yang benar berdasarkan pemahaman sahabat, mereka berdua malah terjerumus dalam hal ini.Padahal kita sudah diajarkan bagaimana cara yang benar mencari jodoh yaitu dengan ta’aruf yang syar’i. Oleh karena itu maka kami coba menangkat tema ini.

 

Umumnya dilakukan oleh yang kurang imannya

Mungkin awalnya tidak bermaksud mencari jodoh, akan tetapi lemahnya iman yang membuatnya bermudah-mudah berhubungan dengan hubungan yang tidak halal, padahal mereka sudah mengetahui ilmunya. Inilah fenomena yang sering terjadi belakangan ini, wanita dibalik hijabnya yang tertutup rapat tetapi hijab kehormatannya tidak tertutup dibalik e-mail,inbox FB, dan SMS. Begitu juga dengan laki-laki dengan penisbatan mereka kepada, “as-salafi”, “al-atsari” dengan hiasan-hiasan status dan link berbau syar’i, akan tetapi sikap dan wara’-nya tidak menunjukkan demikian.

Hubungan laki-laki dengan wanita yang berujung cinta adalah kebahagian hati terbesar bagi manusia terutama pemuda, lebih-lebih bagi mereka yang belum pernah mecicipi sama sekali. Maka ketika bisa merasakan pertama kali sebagaimana berbuka puasa, sangat nikmat dan bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه

Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)

Mereka yang sudah paham tentu tidak leluasa melakukannya di dunia nyata, baik karena tidak ada kesempatan ataupun malu jika ketahuan. Akan tetapi kedua hal ini hilang ketika berkecimpung di dunia maya. Mulai dari cara halus dengan menyindir dan tersirat ke arah cinta tak halal sampai dengan cara terang-terangan. Ketika mereka merasakan nikmat perasaan cinta yang berbunga-bungan maka lemahnya iman tidak bisa membendung sebagaimana berbuka puasa. Sehingga terjalinlah cinta yang tidak diperkenankan syariat bahkan sampai ke arah pernikahan.

 

Terkesan shalih dan shalihah di dunia maya

Jangan langsung terburu-buru menilai seseorang alim atau shalih hanya karena melihat aktifitasnya di dunia maya. Sering meng-update status-status agama, menaut link-link agama dan terlihat sangat peduli dengan dakwah. Hal ini belum tentu dan tidak menjadi tolak ukur keshalihan seseorang. Dan apa yang ada di dunia maya adalah teori, bukan praktek langsung. Bisa jadi sesorang sering menulis status agama, menaut link syar’i tetapi malah mereka tidak melaksanakannya dan melanggarnya, apalagi ada beberpa orang yang bisa menjaga image alim di dunia maya, pandai merangkai kata, pandai menjaga diri dan pandai memilih kata-kata yang bisa memukai banyak orang

Tolak ukur kita bisa menilai keshalihan seseorang secara dzahir adalah takwa dan aklaknya yang terkadang langsung bisa kita nilai dan melihatnya di dunia nyata, bukan menilai semata-mata bagaimana teorinya saja di dunia maya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

 

Syaikh  Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini,

فمن اتقى الله و حقق تقواه, و خالق الناس غلى اختلاف طبقاتهم بالخلق الحسن

: فقد جاز لخير كله, لآنه قام بجق الله و حقوق الغباد,

ولآنه كان من المحسنين في عبادة الله, المحسنين إلى عباد الله

“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

 

Tidak amanah ilmiyah

Ada juga yang ingin nampak alim dan berilmu di dunia maya dengan niat yang tidak ikhlas [Alhamdulillah ini cukup sedikit]. Selain cara-cara di atas seperti update status agama setiap jam, menaut link beberapa kali sehari, membuat note setiap hari [waktunya sangat terbuang di dunia maya]. Ada cara lainnya yaitu tidak melakukan amanat ilmiyah misalnya:

-membuat note hampir tiap hari dengan copas dari tulisan orang lain tetapi tidak mencantumkan sumber sehingga orang menyangka dia yang menulisnya

-membuat note dengan copas dari tulisan lainnya, kemudian mengubah-ubah sedkit atau menambah komentar sedikit kemudian menisbatkan tulisan pada dirinya.

Dan masih banyak contoh yang lainnya, silahkan baca Menunaikan Amanah Ilmiyah dan Jujur Dalam Tulisan

Maka tidak heran ada yang mengaku pernah bertemu dengan seseorang yang di dunia maya terkesan sangat alim dan berilmu. Namun tatkala bertemu di dunia nyata, ternyata ia jauh dari apa yang ia sandiwarakan di dunia maya. Jauh dari ilmu, akhlak dan takwa.

 

Perlu husnudzan juga

Kita perlu mengedapankan husnudzon juga, karena ada mereka yang memang kerjanya berhubungan dengan dunia internet seperti ahli IT dan berdagang via internet. Jadi mereka sangat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdakwah mengingat sekarang dunia maya sangat digandrungi oleh masyarakat dunia. Sebaiknya kita jangan berburuk sangka kepada mereka dengan mengira sok alim, sok update status bahasa arab, sok serba syar’i dan sok suci. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS al-Hujuraat: 12)

Kita juga perlu melihat panutan para ulama dan ustadz, mereka lebih sibuk dan lebih memprioritaskan dengan ilmu dan dakwah di dunia nyata, karena kita hidup di dunia nyata. Ilmu dan dakwah di dunia maya adalah prioritas kemudian setelah ilmu dan dakwah di dunia nyata.

 

Terperdaya dengan cinta dunia maya

Dan mereka yang tidak kuat imannya, terperdaya sekaligus dengan hubungan tak halal yang mereka lakukan, mereka sudah terperangkap cinta. maka semakin lengkap sudah, mereka melihatnya sebagai sebuah keindahan tiada tara sampai-sampai menutup beberapa kekurangan yang harusnya menjadi pertimbangan paling terdepan yaitu agama dan ahklak.

 

Keindahan bisa membuat jatuh cinta…

Dan cinta bisa membuat segalanya menjadi indah…

 

Seorang penyair berkata,

هويتك إذ عينى عليها غشاوة … فلما انجلت قطعت نفسي ألومها

“Kecintaanku kepadamu menutup mataku

Namun ketika terlepas cintaku, semua aibmu menampakkan diri”

[[Al-Jawabul Kaafi 214, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah]

Inilah salah satu yang dikhawatirkan, karena cinta sudah menancap tidak peduli lagi, padahal kenal hanya di dunia maya, kemudian memutuskan untuk ketemu, ta’aruf ala kadar dan menikah. untuk mengetahui bagaimana kehidupan dunianya saja sulit, bagaimana wajah aslinya [walaupun tukar foto, maka foto sekarang bisa berbalik 180 derajat dengan aslinya], bagaimana masa depannya dan bagaimana tanggung jawabnya, apalagi untuk mengetahui agama dan akhlaknya yang menjadi prioritas utama, walaupun terkesan shalih tetapi sekali lagi itu hanya di dunia maya, belum tentu.

 

Wanita korban utama

Jelas wanita yang lebih menjadi korban, karena wanita umumnya memiliki hati yang lemah, lemah dengan pujian, lemah dengan perhatian, lemah dengan kata-kata puitis. Bisa kita lihat di berita-berita bagaiaman wanita tidak sedikit yang menjadi korban, baik korban kejahatan, pelecehan seksual sampai pemerkosaan oleh teman yang ia kenal di dunia maya.

Begitu juga dengan wanita penuntut ilmu agama, mengingat pentingnya agama dan akhlak suami, sampai-sampai ada yang berkata, “agama istri mengikuti suaminya, jika ada wanita yang multazimah menikah dengan laki-laki yahudi, maka ia akan terpengaruh”. Jika wanita tersebut terjerumus dengan cinta di dunia maya dan sudah tertancap cinta dan sudah tertutup kekurangan laki-laki tersebut dengan cinta buta.

Sebagaimana kisah nyata yang kami dapatkan, mereka berdua kenal di dunia maya, kemudian sang laki-laki dari kota yang jauh menyebrang dua pulau datang untuk bertemu ke kota wanita tersebut. Maka sang wanita yang sudah terperangkap cinta, langsung “klepek-klepek” dengan sedikit pengorbanan laki-laki tersebut dan langsung ingin menikah. Padahal lak-laki tersebut, wajahnya kurang, porsi tubuh juga kurang, ilmu agama juga belum jelas, dan masa depan juga masih belum jelas karena hanya lulusan SMA. [Semoga mereka berdua bertaubat dan selalu berada dalam penjagaan Allah, Amin]

 

Jangan memulai sesuatu yang suci dengan kemurkaan Allah

Pernikahan dan membangun rumah tangga adalah sesuatu yang suci dan anjuran syariat. Dari pernikahan berawal segala sesuatu dan mengubah kehidupan seseorang dengan perubahan yang besar. Kemudian dari pernikahan lahirnya manusia, lahirlah masyarakat dan lahir berbagai perihal kehidupan. Maka janganlah kita memulainya dengan kemurkaan dan ketidakridhaan dari Allah. Jangan kita mulai dengan hubungan yang tidak halal. Karena ia adalah dasar dan pondasinya.

Hendaklah yakin dengan janji Allah dan bersabar dengan ta’aruf yang syar’i, perbaiki diri dan tingkatkan kualitas ilmu, iman, akhlak dan takwa maka kita akan mendapat pasangan yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Hukum Suami / Istri Memotret Ketika Berjima`

2012/03/20

Belakangan ini, ada beberapa kasus menyebarnya foto atau video artis-artis atau tokoh masyarakat ketika berselingkuh/berzina, mereka bermaksud mengabadikannya sebagai kolokesi pribadi dan tambahan sensasi dan tentu ini menjadi masalah besar bagi mereka. Nah, bagaimana jika sepasang suami istri ingin mengabadikan

Lajnah Daimah [MUI Saudi Arabia] ditanya mengenai hal ini

س: ما حكم تصوير ما يحصل بين الزوجين من المعاشرة الزوجية: الجماع وتوابعه؟ مع العلم أنه قد صدرت فتاوى من بعض المحسوبين على العلم في بعض البلدان بجوازه، مع اشتراطهم المحافظة على الشريط حتى لا يتسرب لأحد

Pertanyaan

Apa hukum memotret hubungan intim suami istri berupa jima’ dan “pemanasannya”? dan diketahui adanya fatwa dari sebagian orang -yang menisbatkan dirinya dengan ilmu- di sebagian negara yang membolehkannya dengan syarat menjaga/meyimpannya pada kaset/file sehingga “bocor” ke orang lain.

ج: تصوير ما يحصل من الزوجين عند المعاشرة الزوجية محرم شديد التحريم؛ لعموم أدلة تحريم التصوير، ولما يفضي إليه تصوير المعاشرة الزوجية خصوصا من المفاسد والشرور التي لا تخفى، مما لا يقره شرع ولا عقل ولا خلق، فالواجب الابتعاد عن ذلك، والحرص على صيانة العرض والعورات، فإن ذلك من الإيمان واستقامة الفطرة، ومما يحبه الله سبحانه. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسل

Jawab:

Memotret hubungan intim suami istri adalah haram yang sangat diharamkan, karena keumuman dalil haramnya membuat gambar/memotret[1], karena memotret hubungan intim suami istri bisa mengantarkan kepada kerusakan dan keburukan yang nyata dan tidak diakui kebolehannya oleh syariat, akal dan makhluk. Maka wajib menjauhi hal ini dan bersemangat dalam menjaga kehormatan dan aurat karena hal tersebut merupakan bagian dari keimanan dan kelurusan fitrah dan termasuk yang dicintai oleh Allah Subhanahu. Wabillahi taufiq, wasallallhu ala nabiyya muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam. [Fatwa lajnah Daimah no. 22659, Asy-Syamilah]

jika ada yang beralasan dengan fatwa ulama yang membolehkan memotret/ mengambil gambar dengan kamera. Maka lajnah daimah juga mengemukakan alasan wajibnya menjaga aurat dan kehormatan. Dan ini juga termasuk “saddu dzara’i” yaitu usaha mencegah terjadinya suatu keburukan sebelum terjadinya. Karena walaupun gambar tersebut disimpan dan dijaga untuk koleksi pribadi bisa jadi terjatuh ke tangan orang lain dan dilihat oleh orang lain.

Sebagaimana penjelasan mengenai pengertian saddu dzara’i,

إبطال الأعمال التي تؤدي إلى مفسدة، كل عمل يئول إلى مفسدة فإنه يكون باطلاً، والعمل قد يكون في أصله مباحًا، لكن لَمَّا ننظر إلى ما يئول إليه نجد أنه يئول إلى مفاسد عظيمة، فلهذا الشرع ينظر إلى هذا ويراعيه

“tidak bolehnya melakukan perbuatan yag bisa mengantarkan kepada suatu mafsadah, setiap amal yang mengantarkan kepada suatu mafsadah adalah batil dan bisa jadi perbuatan tersebut hukum asalnya mubah. Akan tetapi ketika kita melihat ia bisa mengantarkan kepada suatu mafsadah maka kita dapatkan bahwa perbuatan tersebut bisa membawa kepada kerusakan yang besar. Oleh karena itu syariat menimbang dan memperhatikan hal ini.” [Qowaid fiqhiyah hal 15, DR. ‘iyadh bin Nami, syamilah]

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com


[1] Ada sebagian ulama yang menyamakan membuat gambar seperti melukis dengan memotret sebagaimana fatwa lajnah, ada juga yang membolehkan seperti syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu

Download Ceramah: Membongkar Makar Syiah Nushairiyah dan Negara Syiah Iran, Serta Kondisi Terkini Kaum Muslimin Suriah

2012/03/20

Alhamdulillah, silakan download rekaman kajian tentang kondisi terkini kaum muslimin di Suriah dibantai oleh pengikut agama Syi’ah Nushairiyyah dan Syi’ah Iran. Kajian ini disampaikan oleh seorang ulama Islam asal Suriah, seorang doktor Ushulud Diin lulusan satu perguruan tinggi Islam di Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Ustadz Firanda Andirja hafizhahullah. Kajian ini diselenggarakan dalam dua pertemuan, pertemuan pertama mengungkapkan keutamaan negeri Syam dan hakikat Aqidah Syi’ah Nusairiyyah. Sedangkan pada pertemuan kedua, beliau menjelaskan kondisi ahlus sunnah Suriah serta makar kaum Syi’ah raafidhoh Iran dan hizbusy Syaithan Libanon terhadap kaum muslimin Ahlus Sunnah Suriah. Ini merupakan fakta yang berusaha ditutupi oleh da’i Syi’ah di Indonesia, semoga bisa membuka wawasan kaum muslimin Indonesia agar berhati-hati thdp berbagai makar Syi’ah dimanapun mereka berada.

Di antara kekejaman tentara Syiah di Suriah mereka (20 orang tentara) memperkosa seorang perempuan di depan suaminya sampai. Pada tanggal 3 februari 2012 Basyar Al Asad  -semoga Allah melaknatnya- sang presiden ini memerintahkan utk mengebom suatu lokasi yg menewaskan 350 orang langsung dan 1500 terluka, mereka jg mencampur racun di air PAM untuk membunuh Ahlussunnah. Ada pula anak-anak yang dicincang di depan orang tuanya.

Namun di balik kisah memilukan ini, ada orang-orang yang menganggap mereka telah berbuat bijak, mengajak kepada persatuan dan menoleransi orang Syiah. Mereka bukanlah oarag bijak, ataukah hati mereka seperti batu? atau bahkan lebih keras lagi?

Adapula yang mengatakan ini adalah provokasi, seolah-olah dia hidup di suatu zaman yang akses berita sangat sulit didapat. Berita Suriah sangat mudah diperoleh dengan adanya internet.

Semoga kajian ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin, silakan download pada link berikut ini:

KEUTAMAAN TANAH SYAM DAN MEMBONGKAR HAKIKAT AGAMA SYI’AH NUSHAIRIYAH

HAKIKAT AGAMA SYI’AH NUSHAIRIYAH DAN PERAN IRAN DALAM MEMBANTAI KAUM MUSLIMIN SURIAH

Sumber: Radio Rodja Via Salafiyunpad.wordpress.com

LAPORAN DONASI PEDULI KAUM MUSLIMIN SURIAH SILAKAN KLIK DI

http://radiorodja.com/682/sunduq-peduli-kemanusiaan-ahlus-sunnah-suriah/

Wanita Dalam Agama Syi ‘ ah

2012/03/06

     Pinjam–Meminjam Kemaluan Wanita

Diantara praktek zina yang dilegalkan oleh syiah adalah pinjam-meminjam kemaluan wanita antar penganut syiah. Ini berbeda dengan nikah mut’ah. Karena pada kasus ini sama sekali tidak ada unsur pernikahan, seperti akad, mahar, dst. Kasus ini seratus persen ‘pinjam-meminjam’ wanita.! Tapi anda tidak perlu heran, karena termasuk bagian penting dari ajaran syiah adalah sufisme, yang terkadang melegalkan pelecehan seksual, berkedok agama. Kira-kira, tak jauh beda dengan fenomena ‘habib cabul’..!

Berikut beberapa nukilan dari kitab-kitab syiah:

Pertama, dinukil oleh At-Thusi dari Muhammad bin Muslim dari Imam Abu Ja’far ‘alahis salam, bahwa Muhamad bin Muslim bertanya kepada Abu Ja’far:

الرجل يحل لأخيه فرج جاريته؟

“Ada seorang laki-laki yang meng-halalkan kemaluan budaknya untuk temannya, bolehkah?”

Imam Abu Ja’far menjawab:

نعم لا بأس به له ما أحل له منها

“Ya, boleh dia manfaatkan. Selama pemiliknya mengizinkan temannya untuk memanfaatkan budak wanitanya.” (Al-Istibshar, jilid 3, hlm. 136, karya Muhamad bin Hasan At-Thusi)

Kedua, disebutkan At-Thusi dari Muhamad bin Mudharib, bahwa Abu Abdillah ‘alaihis salam berkata kepadaku:

يا محمد خذ هذه الجارية تخدمك و تصيب منها فإذا خرجت فارددها إلينا

“Wahai Muhamad, ambillah budak perempuan ini agar melayanimu dan kamu bisa menggaulinya. Jika kamu ingin keluar (pulang), kembalikan kepada kami.” (Al-Istibshar, jilid 3, hlm. 136, karya Muhamad bin Hasan At-Thusi dan Furu’ Al-Kafi, jilid 2, hlm. 200, karya Muhamad bin Ya’qub Al-Kulaini)

kemudian terdapat beberapa riwayat dari salah satu imam syiah, bahwa dirinya menegaskan: “Saya tidak menyukai tindakan seperti itu (meminjamkan kemaluan).” Setelah menyebutkan beberapa riwayat yang menegaskan bahwa salah satu imam syiah tidak menyukai hal itu, At-Thusi menegaskan dalam catatan kakinya:

فليس فيه ما يقتضي تحريم ماذكرناه لأنه ورد مورد الكراهية، وقد صرح عليه السلام بذلك في قوله: لا أحب ذلك، فالوجه في كراهية ذلك أن هذا مما ليس يوافقنا عليه أحد من العامة و مما يشنعون به علينا، فالتنزه عن هذا سبيله أفضل و إن لم يكن حراما، و يجوز أن يكون إنما كره ذلك إذا لم يشترط حرية الولد فإذا اشترط ذلك فقد زالت هذه الكراهية

Keterangan di atas tidaklah menunjukkan haramnya perbuatan yang kami sebutkan sebelumnya (meminjamkan kemaluan wanita). Karena keterangan salah satu imam tersebut, konteksnya hanya makruh. Sebagaimana Sang Imam ‘alaihis salam telah menegaskan melalui pernyataanya: “Saya tidak menyukai tindakan seperti itu.” Alasan yang memakruhkan hal ini adalah bahwa perbuatan ini termasuk diantara perbuatan yang tidak kami jumpai di masyarakat awam dan dianggap asing oleh masyarakat. Karena itu, meninggalkan perbuatan semacam ini statusnya lebih utama, meskipun tidak haram. Boleh juga dikatakan bahwa perbuatan itu dimakruhkan, apabila tidak disyaratkan anak yang dilahirkankan statusnya merdeka. Karena itu, jika disyaratkan bahwa anak yang terlahir statusnya merdeka maka hukumnya tidak makruh. (Al-Istibshar, jilid 3, hlm. 137, karya Muhamad bin Hasan At-Thusi)

Demikianlah nukilan yang diambil dari referensi yang ditulis ulama besar syiah, Muhamad bin Hasan At-Thusi, Abu Ja’far. Keterangan yang dia sampaikan, diatasnamakan pendapat ahlul bait. Siapapun yang fitrahnya masih bersih dan akalnya masih sehat, akan menilai perbuatan ini 100% zina. Namun sayang, masih banyak simpatisan syiah yang belum sadar, karena semuanya dipermak dengan bungkus perbedaan masalah fiqhiyah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka lakukan.

Biografi penulis Al-Istibshar:

Dia adalah Muhammad bin Al-Hasan bin Ali bin Al-Hasan At-Thusi. Lahir di Kota Thus, tahun 385 H. Kun-yahnya: Abu Ja’far. Dia diberi gelar: Syaikhut Thaifah. Dia termasuk ulama besar syiah dan salah satu perawi hadis dalam syiah. Dia diberi gelar ‘Al-Imam’, satu gelar kemuliaan karena derajat keilmuan dalam Syiah Imamiyah. Dia meninggal tahun 460 H, menurut salah satu pendapat.

Sementara Kitab Al-Istibshar, judul lengkapnya: [الاستبصار فيما اختلف من الاخبار] termasuk salah satu empat kitab penting dalam syiah dan kumpulan hadis, yang menjadi sumber rujukan utama dalam mengambil kesimpulan hukum syariat menurut ulama fiqh syiah imamiyah. Kitab ini berisi 5511 hadis. (http://www.khaleejsaihat.com/)

Allahu a’lam

***
Oleh Ustadz Ammi Nur Baits dari Muslimah.or.id
Disalin ulang oleh www.habibah21.wordpress.com